Sistem Komunikasi di Indonesia

 

 

 

                            SISTEM KOMUNIKASI DI PEDESAAN     

Desa secara etimologi berasal dari bahasa sangsekerta deshi artinya tanah kelahiran/tanah tumpah darah, tanah asal dan tanah air. Secara epistimologi desa adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat termasuk di dalamnya kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai organisasi pemerntahan terendah langsung dibawah camat dan berhak menyelenggarakan rumah tangganya sendiri dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (C.S. Kansil).

Desa adalah sebuah karakteristik yang mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas yang berhubungan dengan komunikasi adalah komunikasi antarpesona. Ini diakibatkan, masyarakat di desa belum percaya penuh terhadap media massa atau juga sejalan dengan tingkat pendidikannya. Oleh karena itu, informasi dari orang lain yang bisa dipercaya lebih menemikan hasil, misalnya melalui pemimpin opini. Di desa komunikasi antarpesona biasa disebut gethok tular. Artinya, komunikasi lewat lisan dari satu orang ke orang lain (mulut ke mulut).

Dalam pembahasan sistem komunikasi pedesaan kelompok kami mengambil contoh di desa Bakal kecamatan Batur kabupaten Banjar Negara. Desa Bakal memiliki jumlah penduduk sekitar 600 kepala keluarga (kk). Mayoritas profesi penduduk desa Bakal adalah petani sayuran yang paling pokok menanam kentang tetapi mereka juga menanam wortel dan kol sebagai pilihan tanaman kedua. Selain menanam sayuran para petani ada yang menanam kayu agar mencegah terjadinya erosi dan tembakau. Karena pembahasan ini berbicara tentang komunikasi/sistem komunikasi tentunya tidak lepas dari unsur-unsur komunikasi (komunikator, komunikan, media, umpan balik, sumber dan efek). Sistem komunikasi di desa Bakal dalam memperoleh informasi medianya bersifat aktif dan pasif, aktif seperti saat ada orang yang melahirkan atau kecelakaan masyarakat desa tersebut mengajak untuk menengok dengan mengunjungi rumah ke rumah atau berpapasan di jalan, hal ini biasa disebut dari mulut ke mulut. Sedangkan pasif  lewat papan pengumuman, televisi dan radio. Media juga ada yang tradisional, memberitahu informasi atau mendapatkan lewat undangan. Karena saat ini tekonologi semakin maju, penduduk desa ini tidak mau ketinggalan maka ada media semi modern, mencari informasi lewat internet.

Bagaimana dengan media cetak? Media cetak misal koran, pada masyarakat desa Bakal koran kurang diminati, mereka dalam mengetahui informasi lebih minat menonton berita di televisi dan mendengarkan di radio. Koran di desa ini ada namanya Jawa Pos ditaruh di perpustakaan desa, yang berminat membaca paling orang yang berpendidikan tinggi, kebanyakan pendidikan tinggi hanya sampai SMA dan tamat sarjana (S1) cuma sedikit. Cara menyampaikan pesan dari koran dengan cara dari mulut ke mulut. Hal ini bisa dibuktikan dengan organisasi pemuda seperti karang taruna, tim SAR dan pendakian gunung. Peran pendidikan sarjana selain berkomunikasi di bidang sosial, ada yang di bidang pertanian seperti halnya pengelolaan hasil pertanian, dalam bidang pendidikan membangun sekolah agama tetapi lulusan pondok pesantren juga ikut turut andil dalam bidang penidikan, orang yang berpendidikan juga berperan sebagai teladan motivasi semangat belajar anak-anak bangsa desa Bakal sampai ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Selanjutnya tentang desa Bakal yaitu mengenai seni tradisional dan medianya. Seni tradisional di desa Bakal dari dulu sampai sekarang yang masih menjadi kesukaan masyarakat tersebut adalah kuda lumping. Media tradisional di desa Bakal masih menggunakan kentongan untuk menandakan suatu kejadian, tetapi di sana kebanyakan menggunakan mikrofon, missal saat ada orang meninggal dunia. Dalam peningkatan pembangunan kemajuan desa tersebut  diadakan kegiatan penyuluhan agar masyarakat tersebut lebih mengetahui dan paham terlebih lagi mempraktekan pesan penyuluhan itu, hal ini dibuktikan dengan pembangunan masjid yang sangat berguna bagi masyarakat, pembangunan sekolah agama dan penyuluhan tentang tanaman kentang untuk kemajuan ekonomi mereka. Pesan penyuluhan desa Bakal kadang dari mulut ke mulut dan diskusi. Ada juga juru penerang (jupen) turur serta dalam penyuluhan. Jupen di desa Bakal yaitu seorang yang dipercaya oleh masyarakat Bakal, misal saat membangun masjid untuk sarana ibadah penduduk tersebut atas dasar ususlan dari sang kyai.

 

  1. MEDIA RAKYAT

Berrigen (1979) mendefinisikan media rakyat (media masyarakat) sebagai berikut:

  1. Media rakyat adalah media yang bertumpu pada landasan yang lebih luas dari kebutuhan semua khalayaknya.
  2. Media rakyat adalah adaptasi media untuk digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan untuk digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan, apa pun tujuan yang ditetapkan oleh masyarakat.
  3. Media rakyat adalah media yang memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi, pendidikan, bila mereka menginginkan kesempatan itu.
  4. Media rakyat adalah media menampung partisipasi masyarakat sebagai perencanaan, produksi dan pelaksana.
  5. Media rakyat adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat.

 

Adapaun fungsi-fungsi media rakyat adalah sebagai berikut (Oepen, 1988):

  1. Memberikan saluran alternatif sebagai sarana bagi rakyat untuk mengemukakan kebutuhan dan kepentingan mereka.
  2. Berguna menyeimbangakan pemihakan kepada perkotaan yang tercermin dalam isi media.
  3. Membantu menjembatani kesenjangan antara pusat dan pinggiran.
  4. Mencegah membesarnya rasa kecewa, rasa puas diri dan keterasingan di kalangan penduduk daerah pedesaan.
  5. Memberi fasilitas berkembangnya keswadayaan, kemampuan menolong diri sendiri dan kemampuan mengambil keputusan sendiri
  6. Berguna bagi umpan balik, sistem pemantauan dan pengawasan suatu proyek tertentu.

 

Karena media rakyat salurannya media massa sebagai bentuk komunikasi, di desa Bakal media rakyat sifatnya pasif yaitu menggunakan papan pengumuman, televisi dan radio. Masyarakat mengetahui informasi-informasi dunia luar hanya sebagai pengetahuan saja, beda apabila informasi tersebut berkaitan dengan diri atau desa tersebut. Misal di papan pengumuman akan ada pengajian habib syekh, penduduk tersebut langsung menanggapi pesan itu, dengan cara mempersiapkan pengajian (dari pembentukan panitia, penyewaan tratak, menyediakan tempat), menyiapkan makanan untuk para tamu, bergotong royong membersihkan lingkungan.

 

  1. KORAN MASUK DESA (KMD)

Pentingnya masuk desa tercermin dari tujuan:

  1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai aspek-aspek pembangunan dan pembaharuan.
  2. Meningkatkan keterampilan terutama yang menyangkut cara hidup dan cara memenuhi kebutuhan hidup.
  3. Memotivasi masyarakat untuk menimbulkan keinginan mengubah nasibnya serta bergerak dalam partisipasi pembangunan.
  4. Meratakan informasi dalam rangka peningkatan arus komunikasi ke pedesaan.

 

Untuk mencapai tujuan di atas maka diusahakan agar ada pengintegrasikan lembaga-lembaga atau potensi yang mempunyai hubungan dengan pelaksanaan KMD. Lembaga-lembaga yang biasanya terkait dengan KMD antara lain pihak Kantor Kepala Desa dan aparatnya, Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD), termasuk pihak lain yang tak terlembagakan namun berpengaruh langsung dengan KMD seperti peran pemuka adat, alim ulama, kiai, tetua kampung.

Sebagai koran yang berbeda dengan koran pada umumnya, tentunya dari segi liputan reportase juga berbeda karena perbedaan target, tujuan, misi dan sasarannya. Misalnya lingkup daerah yang hanya meliputi desa (dari desa ke desa agar masyarakat desa merasa memiliki).

Ditinjau dari segi bahasa yang digunakan, KMD harus menyesuaikan kondisi desa. Hal itu berhubungan dengan dengan rendahnya tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat desa akibat rendahnya tingkat pendidikan mereka. Dengan demikian KMD harus memahami dua karakteristik berikut ini; Pertama, perhatikan dan pertimbangkan calon pembaca yang akan dicapai. Kedua, pertimbngkan bagaimana mempergunakan bahasa untuk membawa pembaca ke tempat yang dikehendaki.

Berita KMD tentu akan diminati jika lebih dekat dengan pembacanya. Dalam jurnalistik dikenal dengan istilah proximity. Tentu akan menarik jika berkaitan dengan diri, keluarga, teman dekat atau desanya.

KMD berbeda dengan Media Rakyat. Media rakyat  adalah media yang tumbuh dan berkembang di masyarakat pedesaan. Media rakyat adalah media “milik” orang desa. Sedangkan KMD adalah koran yang direncanakan terbitnya di kota dan berkembang di pedesaan. Artinya, KMD adalah milik orang kota untuk orang desa.

Dari sini jelaslah perbedaan keduanya. Media rakyat bisa dianggap lebih merakyat, sedang KMD tidak begitu merakyat. Alasannya, KMD adalah Koran yang dibuat oleh orang kota, memakai pola pikir orang kota untuk warga desa. Jadi KMD kurang mengakar di desa. KMD dibuat tak lepas dari usaha ekonomis, sementara Media Rakyat lebih menitikberatkan pada sisi ideal. Maka, Media Rakyat sangat rentan terhadap “kebangkrutan”. Alasannya, Media Rakyat tidak dikelola secara profesional dan ekonomis.

Media cetak yang satu ini berupa koran desa atau koran lokal tidak ada, tetapi koran Jawa Pos ada ditaruh di perpustakaan desa. Namun, warga desa Bakal kurang berminat membaca koran, paling-paling yang berminat lulusan SMA atau sarjana (S1). Untuk memperoleh informasi dari koran beberapa warga yang berminat membaca langsung mendiskusikan kepada organisasi pemuda atau warga yang berminat mengikuti diskusi. Adanya karang taruna, tim SAR dan kumpulan orang yang suka mendaki gunung bisa memperoleh informasi dari pembaca koran kemudian dibicarakan dari mulut ke mulut.

 

  1. PERAN PEMERINTAH DAERAH

Pemerintah daerah (pemda) diharapkan mengalokasikan dananya untuk pengembangan KMD. Tak lain karena KMD bisa mendorong kemajuan masyarakat desa. Lewat KMD pesan-pesan pembngunan dan kebijakan pemda bisa disosialisasikan secara cepat. Perkembangan KMD yang pesat tentu akan berkorelasi erat dengan kemajuan daerah.

Agar KMD bisa berkembang lebih baik ada beberapa permasalahan yang layak diperhatikan; pertama, perlu dukungan penuh pemda. Terutama masalah dana. Pemda juga bisa mengeluarkan kebijakan untuk masing-masing kecamatan, kelurahan, dan desa agar berlangganan KMD. Kedua, masing-masing daerah harus punya inisiatif untuk berlangganan dan memasang iklan ke media KMD.

Hambatan-hambatan dalam pengembangan KMD:

  1. Masyarakat akan bergerak maju dari tradisional ke modern. Semakin maju tingkat pendidikan masyarakat, semakin banyak pilihan media yang akan mereka pilih.
  2. Peran pemda masih kecil. KMD jelas membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mengandalkan iklan atau pelanggan rasanya sangat sulit. Ini tak lain karena wilayah sebaran media itu sangat terbatas. Masyarakat pedesaan masih sulit diajak hidup konsumtif. Padahal pemasang iklan jelas sangat membutuhkan umpan balik untuk membeli produk yang diiklankan. Untuk itu, peran pemda sangat diharapkan. Masalahnya, pemda lebih tertarik untuk menginvestasikan uangnya ke kebutuhan pembangunan fisik atau bidang lain yang punya keuntungan materi.
  3. KMD semakin terancam dengan perkembangan koran lokal/community newspaper.
  4. Masyarakat lebih menikmati KMD untuk mencari hiburan. Hiburan tercermin dengan kesukaannya membaca berita-berita kriminal, seks dan kejahatan lain. Padahal berita itu sudah bisa disaksian di televisi.

 

Peran pemda (lurah) di desa Bakal tidak begitu menjurus ke arah koran, tetapi lebih menjurus ke masalah pembangunan fisik dan memantau kegiatan yang dilaksanakan di desa tersebut, seperti pembangunan masjid agar terlihat modern, membangun sekolah agama seperti Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) namanya Darul Falah, kegiatan pelatihan SAR. Semua itu disetujui asal bernilai positif dan untuk kemaslahatan umat Bakal. Peran lurah disini bersifat kolektif dan situasional, memudahkan berjalannya suatu kegiatan

 

 

  1. MEDIA SENI TRADISIONAL

Media tradisional adalah alat komunikasi yang sudah lama digunakan di suatu tempat (desa) sebelum kebudayaan tersentuh oleh teknologi modern dan sampai sekarang masih digunakan di daerah itu. Isinya masih berupa lisan, gerak isyarat atau alat pengingat dan alat bunyi-bunyian.

Membicarakan media tradisional tidak bisa pisah oleh seni tradisional, yakni suatu bentuk kesenian yang digali dari cerita-cerita rakyat dengan memakai media tradisional. Media komunikasi tradisional sering disebut folklor, bentuk-bentuknya seperti: cerita prosa rakyat (mite, legenda, dongeng); ungkapan rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah); puisi rakyat; nyanyian rakyat; teater rakyat; alat-alat bunyian.

William R. Bascom mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklore sebagai media tradisisonal adalah sebagai berikut: a) sebagai sistem proyeksi (angan-angan atau impian rakyat jelata); b) sebagai pengesahan atau penguat adat; c) sebagai alat pendidikan; d) sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya.

Beberapa kelebihan media tradisional dan seni tradisional:

  1. Ia tumbuh dan berkembang dimasyarakat, sehinnga dianggap cerminan masyarakat.
  2. Media rakyat harus dinikmati dengan jenjang pengetahuan atau pendidikan tertentu (sifatnya tertulis sehingga masyarakat harus bisa membaca), sedangkan media tradisional bisa dinikmati di semua lapisan masyarakat.
  3. Seni tradisional sifatnya lebih menghibur.

 

Namun, seni atau media tradisional terbentur hambatan dalam pengembangan, pertama, perkembangan masyarakat yang kian maju modern, ia akan terancam eksistensinya. Kedua, peran serta pemerintah sangat kecil, padahal seni tradisional menjadi salah satu sumber devisa yang diandalkan. Ketiga, media massa kurang mengekspos atau memberitakan seni tradisional tersebut.

 

Membahas tentang media dan seni tradisional, desa Bakal media tradisionalnya masih menggunakan media undangan, mikrofon, alat kentongan. Undangan dan mikrofon digunakan saat ada acara pengajian mingguan, kerja bakti, undangan pernikahan, undangan tahlilan dan lain sebagaianya. Ada petugas hansip untuk mengontrol situasi dan kondisi desa tersebut, apabila ada maling atau kebakaran biasanya hansip menggunakan alat kentongan atau biasanya banyak memanfaatkan mikrofon dalam menandai adanya kejadian. Selain itu mikrofon juga digunakan untuk memberitahu kalau ada orang meninggal dunia. Adapun seni tradisional masih ada yang berminat tetapi sebagai hiburan semata, yakni: kuda lumping. Bergesernya seni tradisional pemuda warga tersebut lebih memilih mendengarkan musik modern, nonton konser, menonton tari modern dan lain sebagainya.

 

 

 

  1. PENYULUH PEMBANGUNAN

Penyuluh menurut Everet M. Rogers adalah seorang atas nama pemerintah atau lembaga penyuluhan berkewajiban untuk mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasaran penyuluhan untuk mengadopsi inovasi. Fenomena penyuluhan pembangunan adalah ciri khas yang ada di pedesaan. Para petugas penyuluh biasanya ingin menyebarkan suatu penemuan, sedangkan di desa belum tersentuh inovasi tersebut. Pentingnya diadakan penyuluhan di desa:

1)      Sebagai proses penyebaran informasi

2)      Sebagai proses penerangan, Masyarakat tidak hanya menerima inforamasi sebagai pengetahuan saja tetapi masyarakat lebih memahami apa yang di sampaikan oleh komunikator.

3)      Sebagai proses pendidikan

4)      Sebagai proses perubahan perilaku, informasi yang disebar tidak sekedar memberikan pemahaman pada masyarakat pedesaan, tetapi ada perubahan yang terjadi pada masyarakat tersebut.

5)      Sebagai proses rekayasa sosial, maksudnya disini terjadinya penyuluhan yang berguna bagi masyarakat tetapi ada maksud terselubung atau ada unsur politiknya.

 

Profesi orang-orang desa Bakal kebanyakan adalah petani, maka bentuk penyuluhan yang terjadi di desa tersebut tentang tanaman sayuran, dan paling banyak dibahas adalah tanaman kentang. Tanaman kentang yang menjadi sumber ekonomi petani, maka para penyuluh banyak menyosialisasikan bagaimana cara menanam kentang, memilih bibit kentang yang baik, obat untuk kentang yang baik. Bentuk penyosialisasikan diadakan rapat/diskusi (biasanya antar petugas penyuluh dengan warga yang diundang), lewat penjual obat, mahasiswa KKN, insyinyur pertanian, atau dari orang lain yang berpengalaman terhadap kentang itu. Dulu, penduduk desa Bakal dalam memberi obat pada tanaman kentang menggunakan artrokol dan ditan diganti dengan marsa, agrimek karena obat kentang tersebut lebih mahal tetapi obat pengganti itu hasiatnya sama yaitu sama-sama mencegah adanya hama di tanaman kentang. Penyuluhan obat biasanya lewat penjual obat, penjual obat dari kecamatan desa Bakal. Ada juga menanam kentang dengan cara di steak.

Ada hal lain, mendirikan sekolah agama dulu mengaji agama atau al-Quran hanya di masjid/ mushola sekarang sudah didirikan pembangunan sekolah agama dan ada tingakatan kelas. Hal itu diusulkan oleh lulusan dari pondok pesantren. Kemudian membangun masjid dilengkapi fasilitas yang memadai seperti mesin pengaturan waktu dan tanggal agar adzan tepat waktu.

 

 

 

  1. JURU PENERANG

Apa yang dilakuakan juru penerang (jupen) di desa hampir sama dengan penyuluh pembangunan. Tugas jupen biasanya tidak banyak berurusan dengan masalah pembangunan atau pertanian layaknya para penyuluh. Tugas jupen juga menjadi “kepanjangtanganan pemerintah”. Tugas jupen misalnya menyosialisasikan bagaimana program-program pemerintah bisa diketahui masyarakat. Misalnya, masalah Keluarga Berencana (KB).

Baik jupen atau penyuluh pembangunan setidaknya membutuhkan beberapa syarat agar komunikasinya efektif, yakni: keterbukaan (openness), empati (empathy), kepositifan (positiveness), dukungan (supportiviness) dan kesamaan (equality).

Tugas jupen semakin ringan ketika pemerintah melalui surat Direktur Jenderal Penerangan Umum Deppen No. 158/k/VI/T/1988 tanggal 23 Juni 1988 membentuk Pos Penerangan Pedesaan (Pospendes):

1)      Pospendes merupakan lembaga masyarakat sebagai hasil swakarsa dan swadaya masyarakat pedeesaan;

2)      Sebagai swakarsa dan swadya masyarakat, maka lembaga ini diserahkan sepenuhnya kepada masing-masing daerah.

3)      Pospendes ini merupakan salah satu bagian dari Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) dalam usahanya mewujudkan tata informasi pedesaan.

 

Sedangkan fungsi-fungsinya sebagai berikut:

1)      Sebagai “dapur informasi” di tingkat desa atau pusat pengelolaan dan pelayanan informasi pedesaan.

2)      Forum/tempat pertemuan komunikasi antarkelompok-kelompok penerangan dan kelompok lain yang ada di pedesaan.

3)      Forum antar pembina kelompok di pedesaan (jupen, Petugas Penyuluh Lapangan/PPL).

4)      Pusat pembinaan dan kegiatan kelompok di pedesaan (kelompok tani, ternak, capir dll).

 

 

 

Pospendes mempunyai tugas dan kegiatan :

  1. Sebagai dapur informasi, bertugas melakukan pengolahan informasi melalui kegiatan-kegiatan anatara lain diskusi dan temu wicara.
  2. Sebagai pusat pelayanan informasi, bertugas memberikan pelayanan penerangan/informasi kepada masyarakat pedesaan yang membutuhkan melalui kegiatan-kegiatan penyediaan berbagai informasi dan media komunikasi.
  3. Forum komunikasi yang bertugas melaksanakan kegiatan rutin yang berkaitan dengan pembinaan komunikasi di pedesaan.

 

Adapun pengembangan pospendes meliputi beberapa tahapan: a) tahap persiapan; b) tahap pengumpulan. Pengelolaan dan Pemanfaatan Informasi Kegiatan Produktif (PPIKP); dan c) tahap pengumpulan. Pengelolaan dan Pemanfaatan Informasi Umum (PPIU). Sedangkan pengembangan Unit Kegiatan Produktif (UKP) dapat dilakukan melalui tahap-tahap berikut: a) tahap persiapan; b) tahap menumbuhkan Usaha Produktif; c) tahap pengembangan kerjasama antarkelompok; d) tahap penguatan dan perluasan usaha; e) tahap kelembagaan.

 

Jupen di desa Bakal dilakukan oleh pemuka agama atau orang yang sudah dipercaya oleh masyrakat desa itu. Pelatihan tim SAR yang dilakukan warga Bakal dan dipandu dari pihak kabupaten. Tim SAR dilatih untuk menolong korban yang terkena musibah di daerah lain. Dulu ada letusan gunung merapi di Magelang maka tim SAR Bakal langsung memberikan pertolongan, ada kejadian lain juga saat terjadi keluaran asap/ uap kawah di kecamatan Batur kabupaten Banjar Negara tim SAR langsung memberikan pertolongan berupa menyediakan tempat pengungsian, memberikan makanan dan obat-obatan, memberikan yang dibutuhkan oleh korban asap kawah tersebut. Kegiatan tim SAR tersebut tentunya atas arahan dari petugas pihak kabupatennya.

Ada hal lain lagi, masyarakat desa Bakal diberi arahan oleh petugas dari kecamatan untuk menanam pohon yang ada di kebunnnya sehingga tidak terjadi erosi. Hal itu sudah dilakukan oleh masyarakat desa Bakal yang menanam pohon dipinggir-pinggir tanah kebun.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Nurudin, Sisten Komunikasi Indonesia, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: